Kalender Postingan Saya

September 2008
M T W T F S S
    Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Pengunjung:

tumblr site counter

Archives

Statistik

SMS Gratis

Menggagas Penerapan Bioteknologi Berbasis Mikroba di Kota Solo

Oleh: Bowo Sugiharto

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2002 Kota Surakarta atau lebih terkenal dengan sebutan Kota Solo termasuk salah satu kota besar yang mempunyai tingkat timbulan sampah sebanyak 3,25 liter/orang/hari. Kota Surakarta dengan jumlah penduduk 554.630 jiwa, menghasilkan 1.802,54 m3 timbulan sampah. Jumlah ini didapatkan dari jumlah penduduk x 3,25/1000. Namun Kota Surakarta baru dapat mengelola sebanyak 790 m3. Sehingga banyaknya sampah yang belum terlayani adalah 1.012,54 m3 atau 56%. Jumlah ini cukup besar, masih banyak terjadi ilegal dumping atau dibakar sendiri oleh penduduk. Dinas Persampahan Kota Surakarta perlu bekerja keras untuk dapat melayani kebutuhan penduduk akan penanganan masalah sampah.

Lokasi penampungan sampah yang saat ini ada adalah TPA Putri Cempo di daerah Mojosongo. TPA Putri Cempo dengan luas 17 hektar, setiap hari menerima sekitar 265 ton (Indopos, 2007) sampai dengan 280 ton perhari (Media Indonesia, 2007) atau 1010,42 m3 (Pemkot Surakarta, 2002) sampah dari masyarakat Kota Solo. Sampah ini diambil dari 71 tempat pembuangan sementara (TPS) di Kota Solo. Didirikan tahun 1988 dan diperkirakan berusia sekitar 15 tahun (Kompas, 2003). Kemampuan menampung sampah TPA ini semakin terbatas dan diperkirakan 3 tahun sejak tahun 2003 sudah tidak mampu lagi menampung sampah masyarakat kota Surakarta. Sedangkan kemungkinan untuk menambah luas areal TPA sudah tidak mungkin lagi dilakukan.

Sampah sebanyak 265 sampai dengan 280 ton atau 1010,42 m3 perhari ini belum tertangani seluruhnya. Dari jumlah ini yang mampu ditangani baru sekitar 10 persen saja dari sampah-sampah yaitu untuk pupuk kompos dan pakan ternak. Penanganan sampah dengan memanfaatkan sapi dan secara tidak langsung memanfaatkan jasa pemulung untuk memungut sampah yang bisa didaur ulang. DKP mengasumsikan setiap hari sapi-sapi tersebut mampu mengurangi volume 5% sampai 10% volume sampah yang ada atau maksimal mampu mendaur ulang sampah secara alami sampai sekitar 25 ton per hari (Solopos, 2007).

Sampah yang ada cukup bervariasi mulai dari kertas, kayu, kain, karet/kulit, plastik, logam, gelas/kaca, sampah organik dan lain-lain. Dari macam-macam sampah yang ada di Kota Solo tersebut sebagian besar berupa sampah organik yaitu sekitar 70% (Surakarta Dalam Angka, 2002).

Tabel 1. Produksi Sampah, Komposisi Dan Sarana Pembersih Sampah Kota Surakarta Tahun 2002

Produksi sampah tidak akan pernah berhenti bahkan cenderung semakin bertambah, sementara kemampuan TPA menampung sampah semakin berkurang. Hal ini perlu dipikirkan jalan keluar yang tepat sekaligus bermanfaat. Pengelolaan sampah perlu dilakukan. Sebaiknya pengelolaan sampah dilakukan secara hirarkis (KLH, 2002). Upaya pengelolaan pertama akan berpengaruh pada keberhasilan dari upaya pengelolaan kedua dan selanjutnya. Diharapkan melalui penerapan pengelolaan ini dapat mengurangi jumlah sampah secara signifikan mulai dari sumbernya sampai ke tempat pembuangan akhir. Hierarki pengelolaan sampah tersebut adalah :

1. Melaksanakan konsep 4R, yaitu:

Reduce, minimisasi sampah dari sumber;

Reuse, memanfaatkan kembali sampah;

Recovery, melakukan upaya untuk perolehan kembali bahan-bahan yang berguna;

Recycle, melakukan pemrosesan sehingga menghasilkan produk lainnya;

2. Pengolahan sampah dengan memenuhi persyaratan lingkungan misalnya insinerator;

3. Penimbunan sampah di TPA yang ramah lingkungan.

Dalam hal ini kesadaran dan peran serta masyarakat sangat dibutuhkan. Masyarakat yang lebih beradab akan lebih serius dalam menangani sampah. Sejalan dengan petuah luhur yang senantiasa disosialisasikan sejak kita masih kanak-kanak bahwa “kebersihan adalah sebagian dari iman” (Pawito, 2007).

Berdasarkan tabel 1. di atas komponen sampah terbesar Kota Surakarta adalah sampah organik. Sampah organik sangat berpotensi menimbulkan pencemaran karena bisa menimbulkan bau busuk, jika tidak ditangani dengan tepat. Di sisi lain sampah organik mempunyai potensi yang bernilai yaitu dapat diubah menjadi pupuk organik. Pupuk organik sangat dibutuhkan dalam memperbaiki kesuburan lahan pertanian. Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa sampah merupakan bahan buangan yang tidak dapat dimanfaatkan dan menjijikkan, padahal sampah ini dapat dijadikan sebagai bahan baku pupuk organik dan pakan ternak (Simandjuntak, 2007).

Pengelolaan sampah yang penulis pandang tepat adalah dengan memanfaatkannya menjadi kompos, mengingat komposisi terbesar sampah yang ada adalah sampah organik. Dalam hal ini perlu dilakukan penerapan bioteknologi secara terpadu yang memanfaatkan jasa mikroorganisme khusunya bakteri. Pemanfaatan sampah untuk pembuatan kompos dapat dilakukan dengan penerapan metode Takakura yang pernah dikembangkan di Surabaya untuk skala rumah tangga. Hal ini dimaksudkan untuk menagani sampah dari sumbernya. Sedangkan untuk skala yang lebih besar yaitu sampah yang tidak tertangani dari sumbernya dan menumpuk di TPA dibantu dengan menggunakan bakteri starter Efectif Microorganism-4 (EM4).

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai bioteknologi yang memiliki peran ganda seperti pisau bermata dua yakni satu sisi mengurangi timbulan sampah dan sisi yang lain mampu memanfaatkan sampah untuk menghasilkan kompos. Hal ini dapat dirinci sebagai berikut:

1. Bioteknologi mampu memberikan kontribusi dalam mengatasi masalah sampah yang didominasi oleh sampah organik yang semakin menumpuk yang ada di kota Surakarta.

2. Bioteknologi bisa diterapkan dalam penanganan sampah sejak dari sumbernya maupun yang sudah menumpuk di areal tempat pembuangan akhir (TPA).


Pembahasan

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa selain bermaksud untuk mengatasi masalah sampah, bioteknologi yang dipilih juga diharapkan mampu memberikan nilai tambah dengan menghasilkan kompos. Kompos adalah hasil dari proses pengomposan yaitu suatu cara untuk mengkonversikan bahan-bahan organik menjadi bahan yang telah dirombak lebih sederhana dengan menggunakan aktivitas mikroba perombak seperti yang terjadi pada bahan atau sampah organik di dalam tanah oleh bakteri.

Sampah organik secara alami akan mengalami peruraian oleh berbagai jenis mikroba, binatang yang hidup di tanah, enzim dan jamur. Proses peruraian ini memerlukan kondisi tertentu, yaitu suhu, udara dan kelembaban. Makin cocok kondisinya, makin cepat pembentukan kompos. Apabila sampah organik ditimbun saja, baru berbulan-bulan kemudian menjadi kompos. Dalam proses pengomposan akan timbul panas karena aktivitas mikroba. Ini pertanda mikroba menguraikan bahan organik dan merubahnya menjadi kompos.

Tentu saja semua kegiatan pengelolaan sampah dengan bioteknologi ini harus diawali sejak dari sumbernya hingga di TPA yaitu dengan memilahkan sampah menjadi dua golongan yaitu sampah organik yang bersifat copmpostable dan sampah lain yang noncompostable. Selanjutnya penerapan bioteknologi dilakukan terhadap sampah yang bersifat copmpostable. Sedangkan untuk sampah yang noncompostable bisa menerapkan prinsip 4R yaitu Reduce, Reuse, Recovery, serta Recycle. Dalam hal ini juga memberikan kesempatan kepada para pemulung sehingga mereka tidak kehilangan matapencaharian.

Penerapan bioteknologi yang diusulkan dalam makalah ini terdiri dari dua macam, yaitu:

1. Pemanfaatan Takakura Home Method atau dikenal dengan keranjang sakti Takakura, hal ini terutama digunakan untuk menangani sampah organik sejak dari sumbernya yaitu dari sampah rumah tangga.

2. Pemanfaatan Effective Microorganism (EM-4) hal ini dimaksudkan penulis untuk menangani sampah organik yang tidak sempat ditangani sejak dari sumbernya, serta untuk mengangani sampah yang sudah terlanjur menggunung di lokasi TPA.

Kedua macam cara di atas diharapkan mampu menangani masalah sampah terutama mengurangi ketidaksedapan baik bau maupun pemandangan yang tidak enak. Di samping itu juga memperpanjang usia atau daya tampung TPA, serta meningkatkan pendapatan melalui kompos yang dihasilkan.

A. Metode Takakura Home Method

Pengelolaan sampah Takakura dikembangkan di Surabaya. Pengelolaan sampah ini dilakukan pada skala rumah tangga dan menggunakan sebuah keranjang yang disebut ”keranjang sakti Takakura”. Prinsip bioteknologi yang digunakan dari keranjang Takakura adalah pemanfaatan bakteri yang mampu mengurai sampah menjadi kompos. Yang menarik dari keranjang Takakura adalah bentuknya yang praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman digunakan di rumah. Keranjang ini disebut masyarakat sebagai keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik (Tigor, 2007).

Keranjang Takakura dirancang untuk mengolah sampah organik di rumah tangga. Sampah organik setelah dipisahkan dari sampah lainnya, diolah dengan memasukkan sampah organik tersebut ke dalam keranjang sakti Takakura. Keranjang ini berisi bakteri pengurai itu sudah dilengkapi dua bantal sekam untuk sirkulasi udara dan menjaga agar sampah tetap kering dan kelembapannya cukup.Bakteri yang terdapat dalam starter kit pada keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau dan tidak mengeluarkan cairan. Keranjang tersebut bisa diletakkan di mana pun, tapi disarankan di dapur agar dekat dengan sumber sampah Inilah keunggulan pengomposan dengan keranjang Takakura. Karena itulah keranjang Takakura disukai oleh ibu-ibu rumah tangga (Anonim, 2007).

Keranjang Takakura jika diisi setiap hari, dalam waktu satu bulan dapat menghasilkan kompos sedikitnya 24 kg. Dengan menggunakan keranjang ini, sampah bisa dijadikan pupuk kompos yang bermanfaat bagi tanaman kita, sehingga paling tidak kita bisa mengurangi pengeluaran keluarga untuk keperluan pupuk. Bisa dihitung saat ini harga pupuk berapa, nah kalau yang dihasilkan 24 kg (Pemkab Lamongan, 2007).

Keranjang kompos Takakura adalah hasil penelitian dari seorang ahli Mr. Koji Takakura dari Jepang. Takakura melakukan penelitian di Surabaya untuk mencari sistem pengolahan sampah organik. Selama kurang lebih setahun Mr. Takakura bekererja mengolah sampah dengan membiakkan bakteri tertentu yang menguaraikan sampah organik tanpa menimbulkan bau dan tidak menimbulkan cairan. Dalam pelaksanaan penelitiannya, Takakura mengambil sampah rumah tangga, kemudian sampah dipilah dan dibuat beberapa percobaan untuk menemukan bakteri yang sesuai untuk pengomposan tak berbau dan kering. Jenis bakteri yang dikembangbiakkan oleh Takakura inilah yang kemudian dijadikan starter kit bagi keranjang Takakura. Hasil percobaan itu, Takakura menemukan keranjang yang disebut “Takakura Home Method yang di lingkungan masyarakat lebih dikenal dengan nama keranjang sakti Takakura.

Selain Sistem Takakura Home Method, Takakura juga menemukan bentuk-bentuk lain ada yang berbentuk “Takakura Susun Method”, atau modifikasi yang berbentuk tas atau kontainer. Penelitian lain yang dilakukan Takakura adalah pengolahan sampah pasar menjadi kompos. Akan tetapi Takakura Home Method adalah sistim pengomposan yang paling dikenal dan disukai masyarakat karena kepraktisannya.

Gambar 1. Keranjang Takakura

B. Pemanfaatan EM-4

1. Komposisi EM-4

Effective Microorganisms (EM) merupakan kultur campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman yang dapat diaplikasikan sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman dan populasi mikroorganisme di dalam tanah dan tanaman, yang selanjutnya dapat meningkatkan kesehatan, pertumbuhan, kuantitas dan kualitas produksi tanaman. EM-4 sebagian besar mengandung mikroorganisme Lactobacillus sp., bakteri penghasil asam laktat, serta dalam jumlah sedikit bakteri fotosintetik Streptomyces sp. dan ragi. EM-4 dapat memfermentasikan bahan organik dan memanfaatkan gas serta panas dari proses pembusukan sebagai sumber energi.

Dekomposisi bahan organik memperoleh energi dari karbon hasil dekomposisi bahan organik. Menurut Sumardi, (1999), EM-4 merupakan larutan yang mengandung beberapa kelompok mikroorganisme. Kelompok organisme tersebut adalah

a. Bakteri fotosintetik bebas yang dapat mensintesis senyawa nitrogen, gula dan substansi bio aktif lainnya. Hasil metabolik yang diproduksi dapat diserap secara langsung oleh tanaman dan tersedia sebagai subtrat untuk perkembangbiakan mikroorganisme yang menguntungkan.

b. Bakteri asam laktat ( Lactobasillus sp.) memproduksi asam laktat sebagai hasil penguraian gula dan karbohidrat lainnya yang bekerjasama dengan bakteri fotosintesis dan ragi. Asam laktat ini merupakan bahan stirilisasi yang kuat yang dapat menekan mikroorganisme berbahaya dan dapat menguraikan bahan organik dengan cepat.

c. Bakteri Streptomyces sp., mengeluarkan enzim streptomycin yang bersifat racun terhadap hama dan penyakit yang merugikan.

d. Ragi (yeast), memproduksi substansi yang berguna bagi tanaman dengan cara fermentasi. Substansi bio aktif yang dihasilkan ragi berguna untuk pertumbuhan sel dan pembelahan akar. Ragi juga berperan dalam perkembangan mikroorganisme lain yang menguntungkan, seperti Actinomycetes dan Lactobasillus sp.

e. Actinomycetes merupakan organisme peralihan antara bakteri dan jamur yang mengambil asam amino dan zat serupa yang diproduksi oleh bakteri fotosintesis dan mengubahnya menjadi antibiotik untuk mengendalikan patogen, menekan jamur dan bakteri berbahaya dengan cara menghancurkan khitin yaitu zat esensial untuk pertumbuhannya.

EM-4 mampu meningkatkan dekomposisi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan nutrisi tanaman serta menekan aktivitas serangga hama dan mikroorganisme patogen. Manfaat yang dapat diambil dalam teknologi EM-4 pada pengolahan sampah kota adalah berkurangnya bau busuk dan panas yang keluar dari tumpukan sampah, berkurangnya lalat dan hama lain di tempat pembuangan sampah, gundukan sampah cepat menurun sehingga daya tampung sampah dalam lubang penampungan dapat ditingkatkan lebih dari 30%, dan masalah-masalah lingkungan serta kesehatan pekerja. Selain itu sampah dapat dijadikan kompos dalam jangka waktu hanya 2 minggu (Wididana, 1998).

EM-4 diaplikasi sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman dan populasi mikroorganisme di dalam tanah dan tanaman, yang selanjutnya dapat meningkatkan kesehatan, pertumbuhan, kuantitas dan kualitas produksi tanaman secara berkelanjutan. EM-4 juga dapat digunakan untuk mempercepat pengomposan sampah organik atau kotoran hewan, membersihkan air limbah, serta meningkatkan kualitas air pada tambak udang dan ikan.

Menurut Asngad dan Suparti (2005) Pembuatan pupuk organik dengan menggunakan inokulan EM-4 menghasilkan pupuk organik terbaik dan efisien dibanding dengan menggunakan inokulan cacing dan kotoran ayam. Kualitas pupuk organik yang dihasilkan dengan memanfaatkan inokulan EM-4 juga sangat baik.

2. Cara Kerja Pengomposan dengan EM4

a. Menyiapkan Reaktor Kompos (Komposter)

Reaktor ini adalah wadah yang terabut dari PVC, drum berukuran kira-kira 1 m3. Walaupun reaktor kompos terbuat dari drum PVC, sebenarnya reaktor ini bisa dibuat dari apa saja. hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah, reaktor ini harus memiliki sistem ventilasi yang bagus. Reaksi pengkomposan adalah memang jenis reaksi yang memerlukan udara. Jika reaktor ini tidak memiliki sistem ventilasi yang baik, proses pembusukan yang terjadi juga akan menghasilkan bau busuk akibat dari pembentukan amoniak dan H2S.

2. Mempersiapkan Bahan atau Sampah Organik

Siapkan bahan atau sampah organik yang akan dikomposkan. Sampah organik yang disiapkan bisa berasal dari apa saja, misalnya dari sisa sayuran, nasi, atau potongan-potongan tanaman dari kebun dan lain-lain. Agar kompos tidak berbau, hindari memasukkan daging, tulang dan minyak. Sebelum dimasukkan ke dalam reaktor kompos, bahan-bahan tadi sebaiknya dipotong kecil-kecil agar proses dekomposisinya menjadi lebih cepat dan lebih sempurna.

Proses pembusukan atau dekomposisi memerlukan bakteri pengurai. Jadi, alangkah baiknya jika bahan-bahan tadi dicampur terlebih dahulu dengan sumber bakteri pengurai sebelum dimasukkan ke dalam reaktor kompos. Sumber bakteri pengurai yang dapat digunakan untuk membantu proses pengomposan yaitu EM4 (Effective Microorganism 4) yaing bisa diperoleh di toko-toko penjual pupuk.

3. Siram dan Aduk

Agar proses pengomposan berjalan dengan sempurna, media harus mengandung kira-kira 50% air. Jadi jangan lupa untuk selalu menyiram media kompos ini setiap hari dengan air secukupnya. Bila perlu, bolak-balik media kompos setiap hari agar proses aerasi berjalan sempurna. Selama proses pengomposan, sering kali lalat menjadi masalah yang menjengkelkan. Oleh sebab itu, perlu diusahakan agar setiap lubang di reaktor kompos ditutup dengan kawat kasa. Bila bau tak sedap keluar, tambahkan air dan EM4, dan bau segera menghilang. Jika proses ini berjalan dengan baik, setelah 5 hari volume sampah yang dimasukkan akan menyusut kira-kira menjadi hanya 25% dari volume awalnya. Jadi untuk skala rumah tangga, reaktor kompos berukuran 1 m3 sudah lebih dari cukup.

4. Panen

Kompos siap dipanen setelah diproses kira-kira 2-3 minggu, bergantung pada tahap pemrosesannya. Reaktor kompos dapat dirancang sehingga proses pemanenan kompos dilakukan dari dasar reaktor. Kompos yang diperoleh adalah lumpur hitam yang mengandung air kira-kira 50%. Sehingga, untuk mendapatkan kompos kering, lumpur tadi harus dijemur. Biasanya, lumpur yang diperoleh langsung digunakan sebagai media tanaman di kebun. Jadi tidak perlu dijemur dahulu.

C. Target dan Keuntungan Pengelolaan Sampah dengan Pengomposan

Pengomposan sampah kota ini melibatkan peran serta masyarakat Kota dengan demikian diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Pengomposan terhadap sampah perkotaan sebagai bahan baku mempunyai banyak keuntungan seperti diuraikan berikut ini:

1. Membantu meringankan beban pengelolaan sampah perkotaan.

Komposisi sampah di Kota Surakarta sebagian besar terdiri atas sampah organik, yang mencapai 70% dapat dikomposkan. Apabila hal ini dapat direalisasikan sudah tentu dapat membantu dalam pengelolaan sampah di Kota Surakarta, yaitu :

a. Memperpanjang umur tempat pembuangan akhir (TPA), karena semakin banyak sampah yang dapat dikomposkan, semakin sedikit sampah yang dikelola.

b. <span style=”font-size: 11pt;font-family: "Book Antiqua&quot&#0

PDF    Send article as PDF   

Comments are closed.