Kalender Postingan Saya

May 2013
M T W T F S S
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Pengunjung:

tumblr site counter

Archives

Statistik

SMS Gratis

PEMILIHAN GURU BERPRESTASI

Dalam waktu dekat, di tingkat propinsi khususnya di Jawa Tengah segera dilaksanakan pemilihan guru berprestasi untuk menentukan kandidatnya yang akan diikutkan pada ajang sejenis di tingkat Nasional. Pemilihan dan lomba guru berprestasi setiap tahun selalu diadakan oleh pemerintah. Pelaksanaan kegiatan ini jika ditilik dari dasar hukumnya adalah merupakan implementasi dari Undang-Undang no 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-Undang ini secara eksplisit mengamanahkan kepada pemerintah melalui pasal 36 yang menyebutkan bahwa “Guru yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau bertugas di daerah khusus berhak memperoleh penghargaan”. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk menentukan dan memilih guru yang tepat untuk mendapatkan penghargaan tersebut. Puncak penghargaan itu dilaksanakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, hari ulang tahun provinsi, hari ulang tahun kabupaten/kota, hari ulang tahun satuan pendidikan, hari pendidikan nasional, hari guru nasional, dan/atau hari besar lain.

Menurut sejarahnya, pemilihan guru berprestasi sudah dilaksanakan sejak tahun 1972 sampai dengan tahun 1997 yang semula merupakan pemberian predikat guru teladan. Pemilihan guru teladan untuk periode 1998-2001 hanya sampai pada tingkat provinsi. Dalam perkembangan lebih lanjut, setelah mendapatkan banyak masukan dari berbagai kalangan, pelaksanaan pemilihan guru teladan ditingkatkan kualitasnya menjadi pemilihan guru berprestasi. Pada periode berikutnya yaitu tahun 2002 dilaksanakanlah ajang pemilihan guru berprestasi pertama kali. Pelaksanaan pemilihan guru berprestasi ini dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat satuan pendidikan (sekolah), kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan tingkat nasional. Tentu hal ini tidak mengurangi makna dari unsur keteladanan yang menjadi konsep awal dari pelaksanaan kegiatan ini.

Tidak hilangnya konsep awal dalam bentuk pemilihan guru teladan terlihat dari teknik yang digunakan dalam penilaian guru berprestasi. Pemilihan dilakukan secara ketat melalui beberapa macam cara penilaian secara terpadu yaitu melalui uji tertulis, presentasi karya akademik, wawancara, dan penilaian portofolio. Pada penilaian sistem portofolio merupakan bukti adanya rekam jejak (track record) kinerja guru yang tentu tidak diperoleh dengan cara instan. Secara akumulatif nilai dari berbagai macam cara penilaian tersebut digunakan sebagai kriteria dalam menentukan guru berprestasi.

Siapakah guru berprestasi?

Guru berprestasi memiliki makna “guru yang berprestasi dan guru teladan” sebagaimana konsep awal program ini digulirkan. Guru berprestasi adalah guru yang unggul, mempunyai nilai komparatif yang tinggi dibandingkan guru yang lain, dan guru yang mempunyai “X factor” dalam konteks pembelajaran dan pendidikan. Kaca mata yang digunakan dalam hal ini sudah barang tentu tidak bisa lepas dari keempat macam kompetensi yang harus melekat pada diri penyandang profesi guru, yaitu kompetensi paedagogik, kompetensi profesional, kompetensi, sosial, dan kompetensi personal (kepribadian). Guru berprestasi merupakan  guru  yang menghasilkan  karya  kreatif  atau  inovatif  antara  lain  melalui: pembaruan (inovasi) dalam pembelajaran atau   bimbingan; penemuan teknologi  tepat guna dalam bidang pendidikan; penulisan buku    fiksi/nonfiksi di bidang pendidikan atau sastra Indonesia dan sastra  daerah;    penciptaan karya seni;  atau  karya  atau  prestasi  di  bidang  olahraga.  Mereka  juga merupakan  guru  yang secara  langsung  membimbing  peserta  didik  hingga  mencapai   prestasi  di  bidang intrakurikuler dan/atau ekstrakurikuler.

Dunia pendidikan bagi guru berprestasi adalah bagaikan air bagi ikan. Tanpa air, ikan tidak akan dapat bertahan hidup. Demikian pula bagi guru, dunia pendidikan merupakan tempat hidupnya. Guru berprestasi akan merasa tersiksa dan tidak nyaman jika harus meninggalkan dunia pendidikan. Hal ini karena profesi guru merupakan panggilan jiwa. Bagi guru berprestasi, hanya ada dua macam profesi di dunia ini yaitu profesi guru dan profesi selain guru. Pernyataan terakhir ini bermakna bahwa dunia pendidikanlah yang merupakan dunia yang dicintai sedangkan yang lain adalah pilihan kedua. Dunia pendidikan pula yang membesarkan guru berprestasi karena memang di sinilah guru berprestasi mengembangkan diri. Konsep pengembangan diri bagi guru adalah pengembangan secara berkelanjutan yang meliputi keempat kompetensi yaitu, paedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Dengan demikian, seorang guru berprestasi adalah guru yang mempunyai kesadaran atas dirinya dengan segala potensi dan kelemahan yang dimiliki untuk dijadikan dasar berpijak untuk melakukan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan.

Kinerja Guru Berprestasi

Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi no 16 tahun 2009 dapat digunakan sebagai bahan pijakan untuk mengarahkan kinerja guru. Peraturan ini mengatur adanya jabatan fungsional guru yang merupakan manifestasi kinerja profesional guru. Jabatan fungsional yang dimaksud secara berjenjang meliputi guru pertama, guru muda, guru madya, dan guru utama. Adanya jenjang jabatan fungsional ini juga menuntut guru supaya melakukan pengembangan profesionalismenya secara berkelanjutan. Pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai  dengan kebutuhan, bertahap, dan berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya.  Hal ini pula yang mendasari perlu adanya pengumpulan bukti rekam jejak berupa portofolio dalam sistem penilaian guru berprestasi.

Portofolio merupakan bukti nyata kinerja guru berprestasi yang menyertai dinamika pelaksanaan tugas profesional seorang guru. Rekam jejak guru berprestasi tentu saja bukan sesuatu yang muncul secara instan. Oleh karena itu, portofolio menjadi bagian integral dari penilaian secara holistik terhadap sosok guru di samping tes tertulis, tes wawancara, dan tes kepribadian. Bagian penting dari komponen portofolio ini beberapa di antaranya adalah bukti adanya pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif.

Pengembangan diri pada dasarnya merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru melalui kegiatan pendidikan dan latihan fungsional dan kegiatan kolektif guru yang dapat meningkatkan kompetensi dan/atau keprofesian guru. Dengan demikian, guru akan mampu melaksanakan tugas utama dan tugas tambahan yang dipercayakan kepadanya. Tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan, sedangkan tugas tambahan adalah tugas lain guru yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, seperti tugas sebagai kepala sekolah, wakil kepala sekolah, kepala laboratorium, dan kepala perpustakaan.

Beberapa contoh materi yang dapat dikembangkan dalam kegiatan pengembangan diri, baik dalam diklat fungsional maupun kegiatan kolektif guru, antara lain: (1) penyusunan Rencana Pelaksanakaan Pembelajaran (RPP), program kerja, dan/atau perencanaan pendidikan; (2) penyusunan kurikulum dan bahan ajar; (3) pengembangan metodologi mengajar; (4) penilaian proses dan hasil pembelajaran peserta didik; (5) penggunaan dan pengembangan teknologi informatika dan komputer (TIK) dalam pembelajaran; (6) inovasi proses pembelajaran; (7) peningkatan kompetensi profesional dalam menghadapi tuntutan teori terkini; (8) penulisan publikasi ilmiah; (9) pengembangan karya inovatif; (10) kemampuan untuk mempresentasikan hasil karya; dan (11) peningkatan kompetensi lain yang terkait dengan pelaksanaan tugas-tugas tambahan atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Kegiatan-kegiatan dan produk-produk tersebut merupakan proyeksi kebutuhan guru di masa depan. Idaman guru masa depan bukan hanya sekedar menjalani tugas mengajar/membelajarkan melainkan juga tugas-tugas lain untuk mengembangkan kapasitasnya sebagai seorang guru.

Publikasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan secara umum. Publikasi ilmiah mencakup 3 (tiga) kelompok, yaitu:  presentasi pada forum ilmiah, publikasi ilmiah berupa hasil penelitian atau gagasan ilmu bidang pendidikan formal, dan publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan/atau pedoman guru. Presentasi pada forum ilmiah merupakan kegiatan guru yaitu bertindak sebagai pemrasaran dan/atau nara sumber pada seminar, lokakarya, koloqium, dan/atau diskusi ilmiah, baik yang diselenggarakan pada tingkat sekolah, KKG/MGMP, kabupaten/kota,  provinsi, nasional, maupun internasional. Publikasi dapat berupa karya tulis hasil penelitian, makalah tinjauan ilmiah di bidang pendidikan formal dan pembelajaran, tulisan ilmiah populer, dan artikel ilmiah dalam bidang pendidikan. Karya ilmiah ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah tertentu atau minimal telah diterbitkan dan diseminarkan di sekolah masing-masing. Publikasi buku dapat berupa buku pelajaran, baik sebagai buku utama maupun buku pelengkap, modul/diktat pembelajaran per semester, buku dalam bidang pendidikan, karya terjemahan, dan buku pedoman guru. Buku termaksud harus tersedia di perpustakaan sekolah tempat guru bertugas.

Karya inovatif adalah karya yang bersifat pengembangan, modifikasi atau penemuan baru sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan, sains/teknologi, dan seni. Karya inovatif ini dapat berupa penemuan teknologi tepat guna, penemuan/peciptaan atau pengembangan karya seni, pembuatan/modifikasi alat pelajaran/peraga/praktikum, atau penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya pada tingkat nasional maupun provinsi.

Pengembangan Kompetensi Guru Berprestasi

Dunia pendidikan adalah dunia yang penuh dengan dinamika. Salah satu dinamika yang terjadi adalah adanya penyempurnaan dan pengembangan kurikulum yang dalam kurun waktu tertentu harus ditinjau ulang dan dilakukan rekonstruksi. Perubahan kurikulum ini adalah sebuah keniscayaan. Bagi guru berprestasi yaitu guru yang profesional, perubahan kurikulum bukanlah sebuah bayangan yang menakutkan. Adanya prinsip learning how to learn menjadi salah satu pijakan untuk menghadapi segala dinamika yang ada. Di sisi lain, ciri profesional adalah dinamis, bukan statis. Tentu hal ini membutuhkan kapasitas sumber daya manusia yang handal. Sudah sewajarnya jika pemerintah menetapkan aturan bahwa pendidikan minimal bagi guru sebagai syarat kualifikasi akademik adalah S1 atau D4. Sekalipun jika dibandingkan dengan Negara maju di bidang pendidikan kualifikasi akademik ini masih terhitung di bawah. Sebagai contoh, di Finlandia yang saat ini dinilai paling maju dalam bidang pendidikan syarat minimal kualifikasi akademik guru adalah S2. Uraian ini menandaskan bahwa seharusnya bagi guru profesional ada kepedulian untuk terus menimba ilmu tidak hanya puas berada pada level sarjana saja melainkan dapat menempuh S2 atau bahkan S3.

Adanya kewajiban mengajar dalam tatap muka sebanyak minimal 24 jam per minggu juga bukan halangan bagi guru berprestasi untuk terus melakukan pengembangan diri. Penelitian yang bersifat inquiry reflektif dapat menjadi salah satu alternatif untuk melakukan kajian secara mendalam terhadap apa yang sudah dilakukan dalam pembelajaran. Penelitian yang bersifat inquiry reflektif ini dapat diwujudkan dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK juga merupakan wahana bagi guru untuk mengimplementasikan prakarsa profesional guru. Adalah menjadi sebuah kewajiban moral bagi guru profesional untuk melakukan PTK. Manfaat ganda dapat dipetik dari adanya kegiatan PTK, yaitu untuk pengembangan kompetensi sekaligus juga untuk pengembangan karir. Pengembangan kompetensi melalui PTK diwujudkan dengan melakukan serangkaian kegiatan yang bersiklus sejak dari membuat perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Guru profesional harus berbesar hati untuk mengakui adanya kelemahan dalam dirinya dan segera diperbaiki dengan mekanisme yang ada dalam PTK. Yang jelas, dengan melakukan PTK seorang guru berprestasi dituntut untuk selalu mengambil prakarsa profesional dalam melakukan perbaikan proses pembelajaran secara berkesinambungan. Tanpa PTK, seorang guru tidak layak untuk menyandang  gelar guru berprestasi.

Di sisi lain, laporan PTK juga dapat dipublikasikan melalui berbagai macam kesempatan seperti sebagai pemrasaran dalam forum ilmiah, penerbitan dalam bentuk prosiding, publikasi dalam jurnal ilmiah berkala, simposium, artikel ilmiah populer, dan sebagainya. Kesempatan publikasi dalam berbagai media ini juga merupakan ajang bagi guru untuk menyebarluaskan ide gagasannya secara ilmiah sekaligus membuka wawasan yang berkualitas. “Katak dalam tempurung” merupakan ungkapan yang dapat terjauhkan dari kamus guru profesional, guru berprestasi. Semangat yang menjiwai dalam aktivitas ini sekaligus juga sebagai wahana bagi guru berprestasi untuk terus melaju menapaki jabatan fungsional puncak sejak dari guru pertama, guru muda, guru madya, dan guru utama. Hal ini terungkap secara gamblang pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi no 16 tahun 2009 yang secara mutlak mewajibkan guru untuk melakukan publikasi ilmiah dalam setiap  kenaikan jabatan fungsionalnya.

Selamat berkarya, guru profesional, guru berprestasi! Langkah nyatamu sudah dinanti

oleh negeri tercinta.

PDF Creator    Send article as PDF   

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Spam Protection by WP-SpamFree